Ketua Unit Penjaminan Mutu Badan Pengembangan Kurikulum menjadi Moderator Pelatihan Kaizen dalam Budaya Akademik dan Industri yang diselenggarakan Fakultas Teknik dan Sains Universitas Nasional Untuk Lulusan dalam Menghadapi Dunia Kerja

Fakultas Teknik dan Sains (FTS) Universitas Nasional menyelenggarakan Pelatihan Kaizen dalam Budaya Akademik dan Industri pada Selasa, 3 Februari 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–15.30 WIB di Aula Blok A Lantai 4, Universitas Nasional ini menghadirkan Ir. Ruliyanto, S.T., M.T., Ph.D. (Dekan Fakultas Teknik dan Sains Universitas Nasional) sebagai pembicara, dengan Dr. (C) Fitria Hidayanti, S.Si., M.Si. (Ketua Unit Penjaminan Mutu Badan Pengembangan Kurikulum) bertindak sebagai moderator pada sesi diskusi dan tanya jawab. Pelatihan Kaizen ini juga dihadiri Kepala Bidang Pedagogik Dosen BPK, Febria Anita, S.Si., M.Sc. selaku Koordinator Seksi Acara, Para Kaprodi, Dosen, Karyawan khususnya para mahasiswa Program Studi Teknik Fisika, Fisika, Teknik Elektro dan Teknik Mesin di lingkungan Fakultas Teknik dan Sains.

Dalam pemaparannya, Ruliyanto, Ph.D. menjelaskan bahwa Kaizen berasal dari bahasa Jepang, yaitu Kai (perubahan) dan Zen (lebih baik), yang berarti perbaikan berkelanjutan (continuous improvement). Konsep ini berkembang di Jepang pasca Perang Dunia II dan menjadi fondasi penting dalam Toyota Production System. Kaizen menekankan bahwa perbaikan kecil yang dilakukan secara konsisten lebih efektif dibanding perubahan besar yang jarang dilakukan dengan fokus memperbaiki proses secara sistematis dan berbasis data.

Beliau juga memaparkan prinsip utama Kaizen, antara lain perbaikan berkelanjutan (continuous improvement), keterlibatan semua pihak (people involvement), standardisasi kerja, siklus PDCA (Plan–Do–Check–Act), serta penerapan konsep 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke). Selain itu, dijelaskan pula tujuh pemborosan (muda) yang perlu dihindari, seperti overproduction, waiting, transportation, overprocessing, inventory, motion, dan defect, yang sering kali juga terjadi dalam aktivitas akademik mahasiswa. Menariknya, Kaizen tidak hanya relevan di dunia industri manufaktur, tetapi juga di sektor pendidikan, rumah sakit, perbankan, hingga UMKM dan startup. Dalam konteks mahasiswa, Kaizen dapat diterapkan pada manajemen waktu, disiplin belajar, pengerjaan proyek kelompok, praktikum yang lebih tertata, hingga penyusunan skripsi yang lebih terstruktur.

Pada sesi diskusi yang dipandu oleh Fitria Hidayanti, S.Si., M.Si., diskusi berlangsung aktif dan interaktif. Mahasiswa antusias mengajukan berbagai pertanyaan, khususnya terkait penerapan 5S di lingkungan kampus dan laboratorium, implementasi siklus PDCA dalam penyelesaian tugas, proyek, maupun penelitian, serta strategi membangun kebiasaan disiplin secara konsisten. Beberapa mahasiswa juga menanyakan bagaimana budaya Kaizen dapat membantu meningkatkan kesiapan dan daya saing mereka di dunia kerja.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Associate Professor Ruliyanto, Ph.D. menekankan bahwa penerapan 5S dapat dimulai dari hal sederhana seperti penataan ruang belajar, pengelolaan file digital, hingga kedisiplinan waktu. Sementara itu, siklus PDCA dapat diterapkan dalam setiap proyek akademik agar pekerjaan lebih terstruktur dan terukur hasilnya. Terkait peningkatan karir di dunia kerja, khususnya di perusahaan yang menerapkan budaya Jepang, mahasiswa didorong untuk membangun mindset perbaikan berkelanjutan, disiplin terhadap standar, serta berani melakukan evaluasi diri secara rutin.

Dengan suasana diskusi yang hidup dan partisipatif, kegiatan ini diharapkan mampu menanamkan budaya Kaizen dalam lingkungan akademik FTS UNAS. Semangat “hari ini lebih baik dari kemarin” menjadi pesan utama agar mahasiswa siap menghadapi tantangan dunia industri secara profesional dan berkelanjutan.

Kegiatan ini diharapkan mampu membangun mindset mahasiswa bahwa “hari ini harus lebih baik dari kemarin”, sehingga tercipta budaya akademik yang produktif, disiplin, dan siap bersaing di tingkat global. Kaizen bukan tentang perubahan besar yang instan, tetapi tentang konsistensi dalam melakukan perbaikan kecil secara terus-menerus.

(Penulis: Dr. (C) Fitria Hidayanti, S.Si., M.Si.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *