Kepala BPK dan Ka UPM BPK Universitas Nasional Ikuti Sosialisasi Panduan Pembelajaran Transformatif di Perguruan Tinggi dan Hasil Kajian Model Pembelajaran Transformatif yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Sains Dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, Dan Teknologi

Jakarta, 4 Desember 2025 — Badan Pengembangan Kurikulum (BPK) Universitas Nasional menghadiri kegiatan Sosialisasi Panduan Pembelajaran Transformatif di Perguruan Tinggi dan Hasil Kajian Model Pembelajaran Transformatif, yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Sains Dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, Dan Teknologi. Acara berlangsung di Aula Lantai 2 Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA, Ciracas, Jakarta Timur, dari pukul 13.00 hingga 17.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh 943 peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di lingkungan LLDIKTI Wilayah III, menghadirkan pimpinan, pakar, praktisi pendidikan serta dosen untuk membahas arah baru penguatan pembelajaran transformatif di pendidikan tinggi Indonesia.

Sambutan Pembukaan

Acara diawali dengan sambutan Rektor UHAMKA, Prof. Dr. Gunawan Suryoputro, M.Hum., yang diwakili oleh Prof. Herri Mulyono, Ph.D. Dalam sambutannya, disampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi strategis dalam memperkuat mutu pembelajaran melalui pendekatan transformatif. Melalui kerja sama dengan para pakar, acara ini diharapkan dapat memberikan panduan aplikatif bagi para dosen di kelas.

Arahan dari Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif (SPT),  Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Prof. dr. Ardi Findyartini, Ph.D.

Dalam arahannya, Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif (SPT), Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi memberi apresiasi kepada seluruh tim yang telah merumuskan Panduan Pembelajaran Transformatif. Beliau menegaskan bahwa tantangan pendidikan tinggi saat ini adalah meningkatkan relevansi lulusan agar mampu memberikan dampak nyata di bidang ekonomi, sosial, dan teknologi.

Beliau menyampaikan bahwa:

  • Pembelajaran harus berorientasi pada outcome yang dapat menjawab permasalahan nyata.
  • Dosen adalah transformer yang menjalankan tridarma secara terpadu.
  • Pembelajaran transformatif dapat diterapkan pada semua bidang studi melalui model spesifik pada tiap bidang keilmuan.
  • Pengembangan kemampuan mahasiswa harus mempertimbangkan perkembangan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI).

Beliau menutup dengan harapan terjalinnya kolaborasi berkelanjutan untuk memperkuat implementasi pembelajaran transformatif di perguruan tinggi.

Sesi 1 – Arah Kebijakan dan Panduan Pembelajaran Transformatif

Pada sesi pertama, Dr. Uwes Anis Chaeruman, M.Pd. menyampaikan kebijakan dan program Direktorat Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif serta penjelasan terkait Panduan Pembelajaran Transformatif.

Beberapa poin penting:

  • Transformative Learning merupakan kerangka pedagogis yang memanfaatkan metode pembelajaran yang sudah ada.
  • Mahasiswa diajak memberikan asumsi dan refleksi kritis terhadap pengalaman belajar sebelumnya.
  • Dosen dapat mengintegrasikan case-based methods dan diskusi kelompok untuk membangun kemampuan berpikir kritis.
  • Pembelajaran transformatif bukan hal baru, tetapi perlu penguatan implementasi di kelas.
Sesi 2 – Model Pembelajaran Transformatif di Berbagai Bidang

Tim pakar memaparkan tiga model pembelajaran transformatif di bidang:

  1. Robotik/Drone
    Mahasiswa diarahkan menjadi regulator yang memahami penggunaan teknologi robotik secara etis. Dosen dapat menghadirkan praktisi, misalnya dokter yang menggunakan robot dalam operasi.
  2. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
    Pembelajaran K3 harus meluruskan asumsi bahwa K3 semata-mata mengikuti SOP. Tujuan utama K3 adalah perubahan perilaku. Mahasiswa ditugaskan membuat kampanye K3 dan mengembangkan kemampuan advokasi.
  3. Numerasi
    Model ini mendorong mahasiswa meningkatkan kemampuan berpikir analitis dan memecahkan masalah berbasis data.

Dalam pembelajaran transformatif, desain pembelajaran harus mempertimbangkan aspek etis. Contohnya, apabila desain robot menyerupai manusia, termasuk yang memiliki orientasi tertentu, hal tersebut dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, desain lebih baik difokuskan pada fungsi, bukan estetika yang berpotensi memunculkan persepsi keliru.

 

Penilaian dalam pembelajaran transformatif dapat berbeda-beda antar dosen karena dipengaruhi oleh perspektif masing-masing. Risiko yang muncul adalah apabila tidak ada standar yang jelas, maka implementasi akan sepenuhnya mengikuti pola pikir dosen dan tujuan pembelajaran transformatif bisa tidak tercapai.

Selanjutnya, narasumber menegaskan bahwa pembelajaran transformatif bukanlah pendekatan yang kaku. Mezirow menyebut pendekatan ini sebagai pedagogical framework, bukan sebuah model yang harus diikuti secara persis. Dosen dapat memodifikasi elemen-elemen tertentu sesuai kebutuhan, selayaknya penjahit yang memodifikasi desain pakaian agar sesuai dengan kebutuhan pemakainya. Narasumber kembali menekankan bahwa pembelajaran pada dasarnya bergerak dalam kontinum teacher-centered hingga student-centered, bukan dua titik yang saling bertolak belakang. Dosen boleh saja tetap memberikan penjelasan (teacher-centered), namun porsi aktivitas mahasiswa tetap harus lebih dominan dalam semangat active learning.

Narasumber menegaskan bahwa pembelajaran transformatif sangat terkait dengan case-based learning berbasis pengalaman nyata. Kasus yang digunakan sebaiknya bukan ilustratif, tetapi kasus riil, sebagaimana yang biasa diterapkan di Prasetiya Mulya dan Binus. Pembelajaran menjadi transformatif ketika:

  • mahasiswa melakukan refleksi kritis,
  • terjadi dialog terbuka,
  • mahasiswa mengalami pergeseran asumsi, dan
  • pada akhirnya menghasilkan course of action (rencana tindakan baru setelah perubahan cara pandang).

Menurut narasumber, kegiatan sosialisasi hari ini baru sampai pada tahap kedua dalam empat tahap pembelajaran transformatif, yaitu tahap refleksi (reflective thinking). Belum sampai pada tahap perencanaan tindakan maupun implementasi. Namun, niat untuk berubah saja sudah dicatat sebagai nilai kebaikan, dan diharapkan bisa berkembang menjadi reintegration—yakni konsistensi menerapkan pendekatan transformatif dalam pengajaran.

Menutup sesi, narasumber menekankan bahwa pembelajaran transformatif bukan satu-satunya pendekatan yang sah. Dosen tetap boleh menggunakan model lain seperti critical pedagogy, experiential learning, atau deep learning. Semua pendekatan memiliki kelebihan masing-masing. Yang penting, pembelajaran harus berdampak, relevan, dan mampu menjawab kebutuhan zaman.

Partisipasi Universitas Nasional

Universitas Nasional diwakili oleh:

  • Heni Jusuf, S.Kom., M.Kom. — Kepala BPK
  • (C) Fitria Hidayanti, S.Si., M.Si. — Ketua Unit Penjaminan Mutu BPK

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi rujukan dan inspirasi bagi BPK Universitas Nasional dalam penyusunan kurikulum dan penguatan mutu pembelajaran berbasis outcome dan pendekatan transformatif.

Referensi
  1. Pembelajaran-Transformatif-202510122.12.pdf
  2. https://www.youtube.com/watch?v=sTDmrOSz5uE

(Penulis: Dr. (C) Fitria Hidayanti, S.Si., M.Si.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *